Now Playing Tracks

Jillian

"Kau suka ikan merah, Arish?" gadis berambut biru terang itu memandangiku dengan mata hijaunya yang bersinar cerah. Aku hanya tersenyum, masih sibuk menyendoki es ikan merah bertabur mata cumi-cumi buatannya. "Kalau kau suka, kau bisa datang lagi besok senja."

"Terimakasih, Jill. Aku akan selalu datang setiap sore."

Jillian terus memandangiku yang tengah menikmati es buatannya dengan setengah rakus. Dia tersenyum, sesekali mengusap bibirku yang basah.

"Apa?" aku memandangnya penasaran, tak mampu menyembunyikan senyumku. Melihatnya membuatku selalu merasa bahagia.

Jillian menggeleng sambil menggigit bibirnya. Ekornya dikibas-kibaskannya, itu yang selalu dilakukannya ketika dia sedang gelisah. Saat aku memandangi kedua mata hijaunya, dia tersipu dan pipinya bersemu ungu. Memang aneh sekali makhluk ini.

"Oh ya, mungkin suatu hari kau ingin pergi ke rumah permen bersamaku?" ujar Jillian sambil masih menjilati es rumput laut yang mencoreng bibirnya.

"Ya, aku sering sekali mendengar tentang rumah permen. Tapi belum sekalipun seseorang mengajakku mengunjunginya."

"Aku baru saja mengajakmu, kalau kau belum tahu."

"Ya, ya. Tentu saja."

Tiba-tiba aku merasa bodoh. Entah kenapa, setiap berhadapan dengan Jillian, terkadang aku merasa sangat canggung dan tolol. Atau memang aku ini tolol, aku tidak tahu.

to be continued

***

Ludwigsburg, Agustus 2012

NL

Tidak Ada Jus Alpukat di Langit

"Tidak ada jus alpukat di langit. Hanya kamus pekat bernama nasib."

"Bagaimana dengan markisa?"

"Markisa? Apa itu?"

Oh, mungkin saja pemuda itu tidak mengenal markisa. Gadis di sebelahnya hanya tersenyum, seakan membiarkan sang pemuda tenggelam dalam rasa ingin tahunya akan markisa. Mungkin saja dia berpikir, markisa adalah sejenis hewan putih berkaki enam dengan sayap merah muda yang memakan lobak merah di pekarangan istana. Atau mungkin, pemuda itu justru mengira bahwa markisa adalah sebuah nama. Ya, nama seorang perempuan.

Pemuda itu tidak bertanya lagi. Sepertinya dia lebih suka akan imajinasinya sendiri tentang markisa. Dia tidak ingin gadis di sampingnya menjawab pertanyaannya dan akan menunjukkannya gambaran lain tentang markisa. Dia ingin bahwa markisa adalah hewan putih berkaki enam dengan sayap merah muda yang memakan lobak merah di pekarangan istana saja, atau sekedar nama perempuan saja. Ya, sesederhana itu.

Gadis bergaun ungu muda itu memainkan sepatu bootnya di atas salju, tetapi sesaat kemudian dia tampak tidak sabar. Dengan cekatan dia duduk di atas salju tanpa alas. Menggulung segumpal salju di tangannya dan membentuknya menjadi bulatan-bulatan kecil. Satu bulatan dilemparkannya kepada sang pemuda yang kini sudah duduk di sampingnya.

Pemuda itu menatap tak berkedip pada sepatu yang dikenakan oleh gadis di sampingnya. Sepatu boot itu berwarna coklat muda dan tampak terbuat dari bulu-bulu halus milik binatang salju. Entah beruang. Entah kelinci. Entah rusa.

"Sepatumu seperti bulu rusa." gumam pemuda itu, diikuti senyum aneh gadis di sampingnya.

"Dan syalmu lebih tampak seperti markisa."

Sekali lagi, pemuda itu mengerutkan kening mendengar nama markisa disebut. Dengan penasaran, ditatapnya syal miliknya. Berwarna oranye kemerahan dan rajutan kainnya yang tebal dan rapat membuat syal itu tampak bergumpal-gumpal macam bulatan-bulatan kecil yang rapi.

Apakah hewan putih berkaki enam dengan sayap merah muda yang memakan lobak itu memakai syal oranye seperti ini? Pikir pemuda itu. Ataukah perempuan bernama Markisa itu suka mengenakan gaun rajutan berwarna oranye kemerahan?

Begitulah, selama musim dingin dihabiskannya untuk menemani gadis yang tak dikenalnya itu, yang tiba-tiba mengajaknya bercakap-cakap tentang apa yang ada di langit. Gadis yang kemudian dijulukinya gadis markisa itu. Yang bersepatu bulu rusa itu.

***

"Tidak ada jus alpukat di langit. Hanya kamus pekat bernama nasib."

"Bagaimana dengan markisa?"

"Markisa? Apa itu?"

***

Setiap hari, gadis markisa bersepatu bulu rusa itu datang untuk membentuk salju menjadi bulatan-bulatan kecil dan dilemparkannya kepada pemuda di sampingnya sambil tertawa, riang. Pemuda itu terkadang balas melempar dengan bulatan salju yang lebih besar, terkadang lebih memilih diam saja sambil mendengarkan gadis itu berceloteh. Tentang apa saja. Tentang gulali dari pohon maple, tentang mawar hitam di kebun milik Nyonya Wills, tentang gula kapuk dari negeri awan, dan tentang markisa. Meski gadis itu tidak pernah berbicara lebih lanjut tentang markisa - hanya sebatas bertanya “bagaimana dengan markisa?” - justru itu yang menarik bagi pemuda itu. Dia suka sekali membayangkan sendiri seperti apa rupa markisa. Apakah seperti hewan putih berkaki enam dengan sayap merah muda yang memakan lobak merah di pekarangan istana, ataukah hanya sebuah nama perempuan. Ya, sesederhana itu dia menerjemahkannya. Untuk dirinya sendiri.

***

"Tidak ada jus alpukat di langit. Hanya kamus pekat bernama nasib."

"Bagaimana dengan markisa?"

"Markisa? Apa itu?"

***

Suatu hari, pemuda itu membawakan gadis markisa bersepatu bulu rusa itu seikat gula kapuk berwarna merah muda. Gadis itu menjerit kegirangan menerimanya.

"Namaku Arish."

Gadis itu hanya tersenyum sambil menjilati potongan gula kapuk yang mencoreng pipi dan bibirnya.

"Aku Arish. Kau siapa?" pemuda itu mengulangi kalimatnya, kali ini dengan penekanan saat mengucap kau siapa.

Sebagai jawabannya, gadis itu melemparkan bulatan-bulatan salju ke arah Arish. Pemuda itu hanya tersenyum, lalu senyumnya berubah menjadi tawa riang. Mereka pun bercanda. Bermain salju. Saling melempar bola salju dan berdebat mengenai siapa yang telah membuat bola salju paling besar.

Salju sudah mulai mencair. Hari demi hari, hamparan putih di jalan-jalan, di gunung-gunung, di atap-atap rumah, dan di akar-akar pohon yang mencuat keluar, mulai menipis, mencair, lalu menghilang. Sungai-sungai pun kembali bergemericik saat melewati bebatuan dan terkena angin. Musim dingin sudah hampir berakhir. Namun pemuda itu masih rajin mengunjungi tempatnya dan gadis markisa bersepatu bulu rusa itu sering menghabiskan waktu bersama. Di sana, di bawah sebatang pohon maple dengan dedaunannya yang meranggas, pemuda itu tak menemukan siapapun. Gadis itu tak ada di sana. Namun dia tetap menunggu.

"Apa yang kau tunggu?" seekor hewan putih berkaki enam dengan sayap merah muda lewat di hadapannya. Dia membawa lobak di mulutnya.

"Aku sedang menunggu seorang gadis markisa bersepatu bulu rusa." pemuda itu menjawab dengan tanpa semangat.

"Dia takkan datang lagi."

Setelah berkata begitu, hewan aneh tadi terbang. Lobak merah di dalam mulutnya jatuh satu, menimpa bulatan besar bola salju yang dibuat oleh pemuda itu barusan. Pemuda itu menghela napas.

Begitulah, musim dingin sudah benar-benar digantikan oleh musim semi. Bunga-bunga lavender di bawah pohon maple itu mulai menebarkan aromanya yang khas. Bunga-bunga tulip di setiap halaman rumah kayu juga mulai bermekaran. Salju tak lagi ada, namun pemuda itu tetap setia menanti gadis markisa bersepatu bulu rusa yang sering menjadi temannya bercerita di sana. Pemuda itu masih duduk di sana, memainkan rerumputan, membentuknya menjadi bulatan kecil dan selalu gagal. Dia juga berharap akan melihat lagi hewan putih berkaki enam dengan sayap merah muda itu.

"Arish? Itu Arish, bukan?" seorang wanita tua yang membawa keranjang belanjaan berisi lobak putih dan asparagus berhenti untuk menatap pemuda yang duduk di bawah pohon maple di ujung jalan.

"Ya. Benar." jawab lelaki di sampingnya yang menuntun seekor anjing besar coklat bernama Billy.

"Kasihan. Sejak kapan dia memugar makam Markisa?"

"Sejak awal musim dingin lalu."

Billy menyalak dengan kasar, membuat kedua orang itu terkejut dan melanjutkan perjalanan.

"Markisa dan Arish adalah saudara kembar yang menyedihkan." Lelaki itu terus berceloteh meski suaranya hanya sayup-sayup.

"Karena mereka tidak punya orangtua?" wanita yang membawa keranjang belanjaan menimpali. Suara mereka terdengar samar-samar dan semakin jauh, agak sulit didengar karena angin musim semi seakan menelan suara mereka dan merubahnya menjadi udara yang senyap.

Dan Arish masih tetap berada di sana, hingga musim semi terlewati dan berganti dengan musim panas. Pada suatu musim panas, Arish duduk di bawah sebatang pohon di pekarangan rumahnya. Ia masih menanti gadis itu. Atau setidaknya, ia berharap makhluk bersayap penggila lobak merah itu akan datang lagi dan membawa kabar apa saja tentang gadis yang mengganggu pikirannya selama beberapa musim ini.

"Sebuah markisa dari Markisa-mu.” seekor makhluk yang ditunggunya tiba. Dari atas awan yang menggantung rendah, dijatuhkannya sebuah bulatan berwarna hijau mirip apel, tetapi agak lonjong. Arish tersenyum, berterimakasih dengan tatapan matanya yang bersinar. Makhluk itu terbang dengan mulutnya yang penuh lobak merah. Terbang dan menghilang. Tak pernah kembali lagi.

***

"Tidak ada jus alpukat di langit. Hanya kamus pekat bernama nasib.”

"Bagaimana dengan markisa?"

"Tak ada markisa. Hanya kamus pekat bernama nasib."

***

Vienna, 23 Januari 2013

NL

We make Tumblr themes