Now Playing Tracks

Some real creepy shit, get your fix.

  • 1. Think of the last person who said I love you, do you think they meant it?

  • 2. Would you date an 18-year-old at the age you are now?

  • 3. When’s the last time you were aggravated and happy at the same time?

  • 4. Would you ever smile at a stranger?

  • 5. Is there someone mad because you’re dating/talking to the person you are?

  • 6. Have you heard a song that reminds you of someone today?

  • 7. What exactly are you wearing right now?

  • 8. How often do you listen to music?

  • 9. Do you wear jeans or sweats more?

  • 10. Do you think your life will change dramatically before 2015?

  • 11. Are you a social or an antisocial person?

  • 12. Have you ever kissed someone whose name begins with the letter ‘A’?

  • 13. What about ‘R’?

  • 14. Can you drive a stick shift?

  • 15. Do you care if people talk badly about you?

  • 16. Are you going out of town soon?

  • 17. When was the last time you cried?

  • 18. Have you ever told someone you loved them?

  • 19. If you could change your eye color, would you?

  • 20. Is there a boy who you would do absolutely everything for?

  • 21. Name something you dislike about the day you’re having.

  • 22. Is it cute when guys kiss you on your forehead?

  • 23. Are you dating the last person you talked to?

  • 24. What are you sitting on right now?

  • 25. Does anyone regularly (other than family) tell you they love you?

  • 26. Have you ever wanted someone you couldn’t have?

  • 27. Who was the last person you talked to before you went to bed last night?

  • 28. Do you get a lot of colds?

  • 29. Where is the shirt you are wearing from?

  • 30. Does anyone hate you?

  • 31. Do you have any empty alcohol bottles hidden somewhere in your room?

  • 32. Do you like watching scary movies?

  • 33. Do you want your tongue pierced?

  • 34. If you had to delete one year of your life completely, which would it be?

  • 35. Did you have a dream last night?

  • 36. When was the last time you told someone you loved them?

  • 37. Do you think you’ll be married in 5 years?

  • 38. Do you think someone has feelings for you?

  • 39. Do you think someone is thinking about you right now?

  • 40. Did you have a good day yesterday?

  • 41. Think back 2 months ago; were you in a relationship?

  • 42. In the next 48 hours, will you hang out with a girl?

  • 43. Has anyone told you they don’t want to ever lose you?

  • 44. What’s the best part about school?

  • 45. Do you have any pictures on your Facebook?

  • 46. Do you ever pass notes to your friends in school?

  • 47. Do you replay things that have happened in your head?

  • 48. Were you single over the last summer?

  • 49. Is your life anything like it was two years ago?

  • 50. What are you supposed to be doing right now?

  • 51. Do you hate the last guy you had a conversation with?

  • 52. Are you nice to everyone?

  • 53. Have you ever liked someone you didn’t expect to?

  • 54. Do you think you can last in a relationship for 6 months and not cheat?

  • 55. Are you good at hiding your feelings?

  • 56. Do you think you like someone?

  • 57. Have you kissed someone whose name starts with a ‘J’?

  • 58. Do you prefer to be friends with girls or boys?

  • 59. Has anyone of your friends ever seen you cry?

  • 60. Do you hate anyone?

  • 61. How’s your heart?

  • 62. Is there something that happened in your past that you hate talking about?

  • 63. Have you ever cried over a guy?

  • 64. Who is probably talking a load of crap about you right now?

  • 65. Are your toenails painted pink?

  • 66. Will your next kiss be a mistake?

  • 67. Girls love it when boyfriends cry; correct?

  • 68. Have your pants ever fallen down in public?

  • 69. Who was the last person you were on the phone with?

  • 70. How do you look right now?

  • 71. Do you have someone you can be your complete self around?

  • 72. Can you commit to one person?

  • 73. Do you have someone of the opposite sex you can tell everything to?

  • 74. Have you ever felt replaced?

  • 75. Did you wake up cranky?

  • 76. Are you a jealous person?

  • 77. Are relationships ever worth it?

  • 78. Anyone you’re giving up on?

  • 79. Currently wanting to see anyone?

  • 80. Name something you have to do tomorrow?

  • 81. Last person you cried in front of?

  • 82. Is there someone you will never forget?

  • 83. Do you think the person you have feelings for is protective of you?

  • 84. If the person you wish to be with were with you, what would you be doing right now?

  • 85. Are you over your past?

  • 86. Have you ever liked one of your best friends of the opposite sex?

  • 87. Is there anyone you can tell EVERYTHING to?

  • 88. If your first true love knocked on your door with apology and presents, would you accept?

  • 89. So, the last person you kissed just happens to arrive at your door at 3AM; do you let them in?

  • 90. Have you ever liked someone who your friends hated?

  • 91. Will you be in a relationship in 2 months?

  • 92. Is there anyone you know with the name Michael?

  • 93. Have you ever kissed a Matthew?

  • 94. Were you in a relationship in January? How was it going?

  • 95. Were you happy with the person you liked in March?

  • 96. Don’t tell me lies, is the last person you texted attractive?

  • 97. Who do you have texts from?

  • 98. If the person you like says they like someone else, what would you say?

  • 99. Have you ever kissed someone older than you?

  • 100. Who’s in your profile picture with you?

  • 101. Ever kissed under fireworks?

  • 102. Has anybody ever given you butterflies?

Die Abschiedsparty am Zauberberg Semmering

23 Januari 2013

Suatu malam yang bersalju di Semmering, Austria.

Kami baru saja tiba di sebuah Ski Resort yang cukup terkenal di Austria; Semmering. Semmering merupakan koneksi terpenting yang menghubungkan Lower Austria dengan Styria yang bisa diterobos dengan mobil atau menggunakan Semmering Railway. Para pemain ski yang datang ke sini kebanyakan berasal dari Vienna, ibukota Austria, yang bisa ditempuh hanya dalam waktu satu jam saja dengan menggunakan mobil. Sementara itu, jarak dari kota Gloggnitz tempat kami tinggal menuju Semmering hanyalah sekitar 6 mil atau 9 kilometer.

Tidak hanya warga Austria saja, bahkan banyak orang-orang dan pemain ski yang datang dari negara tetangga seperti Hungaria dan Slowakia.

"Wow! Wunderschön!"[1] aku turun dari mobil dan berdecak kagum. Rindu berdiri di belakangku dan ikut mengumpat, pertanda bahwa dia juga sangat mengagumi apa yang tengah dilihatnya.

"Scheiße! Das ist cool!"[2]

Peter, Claudia, dan Paula hanya tertawa kecil melihat Rindu dan aku yang langsung mengeluarkan kamera dan memotret apa saja yang menarik perhatian kami. Sebetulnya, apapun yang ada di sini sangat menarik perhatian kami, kalau kau mau tahu. Dan ya, hamparan salju dengan para pemain ski yang memakai helm ski dan ski coat itu memang merupakan pemandangan yang mengagumkan, terutama bagi Rindu dan aku yang berasal dari dari negara tanpa musim salju. Memang, ini bukan pertama kalinya kami melihat salju. Sepanjang September hingga Januari, di Austria bagian bawah, terutama kota kecil Gloggnitz, selalu hujan salju setiap harinya. Tetapi ini pertama kalinya kami berada di pegunungan es yang terkenal juga dengan sebutan Zauberberg dan melihat banyak orang-orang dewasa, bahkan anak-anak seumuran kami, yang tengah bermain ski dan meluncur dengan Rodeln dari puncak gunung.

Saat itu baru pukul delapan malam dan suasana sudah sangat gelap. Semmering pun makin cantik dengan kerlip lampu-lampu oranye dan biru di sepanjang tepi jalan, mulai dari bawah tempat kami sekarang berada, hingga ke puncak gunung di atas sana.

"Komm!"[3] Peter mengajak kami untuk masuk. Setelah dia membayar tiket masuk untuk kami berlima, kami berjalan menuju kereta gantung. “Kita akan naik kereta gantung.”

"Wah! Ini akan sangat keren! Aku belum pernah naik kereta gantung sebelumnya!" Rindu berlari mendahului kami, diikuti Paula yang tubuhnya tinggi menjulang itu. Dia baru berusia tiga belas tahun, delapan tahun lebih muda dariku, tetapi tubuhnya sangat tinggi, jauh melebihi tinggi badanku. Dia anak pertama Peter dan Claudia.

Kami memasuki sebuah kereta gantung yang berwarna merah. Cukup luas, mungkin bisa diisi sekitar tujuh sampai delapan orang di dalamnya. Tak lama kemudian, kereta mulai naik perlahan.

"Schau mal, Laily!"[4] Paula mencolek bahuku. Aku menoleh ke arah telunjuknya.

"O-ow. That’s amazing!"

"Liebst du es?"[5] tanya Claudia sambil tersenyum.

"Ja, ja, sicher! Das ist sehr schön."[6]

"Sogar mehr als schön. Das ist wie ein Paradies!"[7] celetuk Rindu yang tak henti memotret.

Semmering tampak sangat cantik, apalagi jika dilihat dari ketinggian seperti ini. Dari sini kami juga bisa menyaksikan dan menikmati gemerlap malam kota di bawah sana, juga lalu-lalang mobil yang hanya terlihat lampunya saja. Di bawah sana, masih banyak anak-anak yang bermain ski sambil bercanda. Ada juga yang balapan kemudian berdebat mengenai siapa yang sampai di garis finish duluan, karena hampir keduanya tiba bersamaan.

"Kalian mau naik Rodeln?” Peter bertanya sambil tersenyum. Tubuhnya gagah seperti Brad Pitt dan wajahnya mirip artis Hollywood, entah siapa.

Aku dan Rindu saling pandang.

"Uhm, apakah itu memacu adrenalin?" pertanyaanku membuat Peter tertawa.

"Ja, wahrscheinlich.[8] Tapi sangat seru, kau takkan mau melewatkannya.”

"Maksudmu, rodeln dengan meluncur dari puncak gunung… ini?” Aku memandang ke luar jendela. Demi Tuhan. Ini tinggi sekali. Dan curam. Dan bersalju. Dan licin. Dan sudah malam. Dan…

Peter tertawa lagi. “Tidak usah dipaksakan kalau kau khawatir. Kita akan turun dengan naik kereta gantung saja, seperti sekarang.”

Tak lama setelah itu, kereta gantung berhenti. Kami keluar dan udara semakin dingin saja. Kurogoh saku mantel musim dinginku dan tak kutemukan sarung tanganku di sana. Kugosok-gosokkan telapak tanganku agar sedikit hangat.

"Du, Laily," Peter memandangiku sambil tersenyum. "Ich habe gerade gemerkt, dass du neue weisse Stiefeln und neue Winterjacke hast."[9]

"Ja, sie hat sie in Wien gekauft."[10] Claudia menimpali.

"Wirklich? Die sind lieb. Sehr schön."[11]

"Ah, danke."[12]

Paula berlari mendahului kami, memasuki Lichtensteinhaus, sebuah rumah makan atau dikenal dengan Bergrestaurant. Saat musim dingin, restoran ini buka mulai pukul delapan pagi sampai pukul sebelas malam. Berbeda saat musim panas yang hanya buka mulai pukul sembilan pagi hingga enam petang.

Cuaca semakin dingin. Kami memutuskan untuk makan malam dulu sekaligus menghangatkan badan di dalam Bergrestaurant Lichtensteinhaus. Restoran ini terdiri dari dinding-dinding yang terbuat dari kayu, didirikan pada tahun 1977 oleh Anton Polleres, 1350 meter di atas permukaan air laut. Dari luar tampak restoran itu dipenuhi lilin-lilin dan lampu-lampu oranye yang tidak terlalu terang.

Sepertinya Peter telah memesan meja sebelumnya, karena begitu kami memasuki pintu, seorang pelayan lelaki muda segera menunjukkan dan mengantar kami menuju sebuah tempat. Meja besar dengan lima kursi mengelilinginya.

"Kalian pernah makan Selleriecremesuppe mit Räucherlachsstreifen und Blätterteigstangerl?”[13] Peter membuka pembicaraan. Claudia hari ini cukup pendiam. Dia baru saja menjalani operasi dan pulang dari rumah sakit pagi tadi. Meskipun demikian, dia masih menyempatkan untuk mengajak kami jalan-jalan ke Semmering dan mengadakan Abschiedsparty atau farewell party karena besok aku sudah harus terbang ke Indonesia.

"Belum." Rindu dan aku serentak menggeleng.

"Kalian harus mencobanya. Rasanya enak sekali."

"Boleh." kataku sambil membolak-balik daftar menu.

"Okay," Peter berbicara kepada salah seorang pelayan. "Zweimal Selleriecremesuppe mit Räucherlachsstreifen und Blätterteigstangerl, bitte."

"Und was ist mit Hauptspeise?"[14] tanya pelayan berbaju putih dengan pita hitam di leher itu.

"Hmm," aku mengangkat tanganku. "Ich hätte gern Gegrilltes Goldbrassenfilet mit frischen Kräutern, Butterkartoffeln und gemischtem blattsalaten, bitte."[15]

"Zweimal, bitte!"[16] tambah Peter.

"Dreimal."[17] Rindu ikut mengangkat tangannya. Pelayan itu tersenyum sambil menulis sesuatu di secarik kertas.

"Und Schatzi, was möchtest du bestellen? Paula?"[18] Peter memandangi istrinya dan Paula bergantian.

"Bitte Grillkotelettes mit Chilibohnen, Knoblauchrahmsauce, Pommes frites und Kräuterbutter." Paula memesan tanpa melihat menu terlebih dahulu, seolah-olah dia yakin bahwa menu yang diinginkannya pasti ada. Dan memang benar. Pelayan itu menulis pesanan Paula di secarik kertas yang dibawanya.

Sementara itu, Claudia masih membolak-balik daftar menu, sepertinya tidak yakin akan memesan apa. Mungkin dia tidak lapar. Atau dia masih kesakitan karena operasi rahimnya.

Beberapa detik kemudian, dia membuka suara, “Ich möchte nur Vorspeise. Karotten Ingwerschaumsuppe mit Zuckermais, bitte.”[19]

"Okay. Und zum Trinken?"[20]

Untuk minumannya, kami sengaja memesan minuman hangat. Aku dan Peter memesan Cappuccino panas dengan Schlagobers di atasnya, Rindu dan Claudia memesan teh hangat dengan sensasi mint, sementara Paula yang tidak suka kopi hanya memesan air putih saja.

Pelayan itu pergi setelah memastikan kembali pesanan kami. Sambil menunggu pesanan datang, kami mengobrol banyak hal.

"Jadi, bagaimana perasaanmu, Laily?" tanya Paula yang duduk di sampingku. Dia cantik sekali. Wajah dan senyumnya mirip ayahnya, tetapi matanya biru seperti mata ibunya.

"Aku merasa sangat senang, tetapi juga sangat sedih."

"Ya, ya, kami mengerti perasaanmu." Sahut Peter. "Kau pasti sedih karena kau akan meninggalkan kami, keluargamu, di sini. Kau juga senang karena kau akan bertemu dengan keluargamu di Indonesia."

"Ya. Dan Austria sangat indah. Aku suka pegunungan Alpen-nya, juga Silbersberg yang mengelilingi kota kecil Gloggnitz. Aku suka orang-orangnya, suka Kebab di sebelah apartemen, suka musim panasnya, suka saljunya, suka suasana di daerah Stephansplatz, suka sungai Danube-nya, suka jembatan Philadelphia-nya.” Aku berbicara sambil tersenyum-senyum sendiri dengan mata sedikit berkaca-kaca.

"Ja, Österreich ist doch sehr schön, aber zuhause ist zuhause, oder?"[21] Peter mengerling, dan aku mengangguk.

"Bagaimanapun juga, kau belajar banyak di sini, ‘kan?" Claudia tersenyum, matanya bersinar cerah, tetapi sedikit menyorotkan kesedihan.

"Tentu saja. Austria telah mengajariku banyak hal. Jauh dari kampung halaman adalah hal paling menyesakkan seumur hidupku. Tetapi semuanya memang butuh waktu. Aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, orang-orang baru, bahasa baru, dan budaya baru. Dan sekarang aku merasa, hal paling menyesakkan adalah ketika aku harus kembali pulang. Meninggalkan yang telah menjadi bagian dari diriku selama hampir satu tahun ini." suaraku sedikit serak. Aku hanya berharap semoga airmataku tidak menetes di sini. Kami ke sini untuk merayakan pesta, bukan untuk saling menangis. "Aku pulang bukan karena keinginanku, tetapi kampung halaman telah memanggilku. Aku pulang bukan karena aku ingin meninggalkan Austria, bukan karena kontrak dan visaku berakhir, tapi aku pulang untuk kembali lagi. Aku pulang agar aku punya alasan untuk mengunjungi kembali Austria suatu hari nanti. Aku pulang agar aku tahu bagaimana rasanya berada jauh dari orang-orang dan negara yang telah menjadi bagian dari diriku, dan yang telah mengajariku banyak hal. Tentang arti cinta, kerinduan, bahkan arti hidup dan kehilangan."

"Laily," aku seketika menoleh kepada Paula di sampingku. "Bagaimana kesanmu tentang Austria? Tentang Gloggnitz?"

Gloggnitz is my second hometown. Austria is my second country. Aku bahagia mengenal kalian, bertemu dengan kalian semua. Kalian tahu, bertemu dengan orang-orang baik di negeri orang adalah hal yang tidak mudah. Suatu ketika aku pergi ke Paris dan tak seorangpun yang kutemui yang tersenyum padaku. Saat aku ke Italia pun, ketika aku menyanyakan sebuah alamat, orang itu hanya berkata "I don’t know!" kemudian berlalu begitu saja, tanpa entschuldigung, tanpa senyum.”

"Orang Austria ramah-ramah. Ketika kami masuk ke toko-toko, semua pelayan toko selalu tersenyum. Ketika waktu itu Laily dan aku akan memesan makanan di sebuah restoran pun, pelayan itu memperingatkan kami supaya jangan memesan ini, ini, dan ini, karena mengandung daging babi." tambah Rindu.

"Oh ya?" Peter bertanya antusias.

"Ya, karena Laily memakai jilbab. Orang itu lalu bertanya, "Sie sind Muslim, oder?" Dan kami mengiyakan.”

"Ya, benar." lanjutku. "Mereka warga pendatang, berasal dari Jepang. Kalian pernah dengar tentang Taki, Traditional Food Japanese Restaurant di Wiener Neustadt?”

"Ah ya! Aku pernah ke sana bersama beberapa teman sepulang dari berkuda. Makanannya cukup enak." Sahut Paula.

"Makanan Asia memang terkenal enak." tambah Claudia.

"Kalian harus ke Indonesia suatu hari. Banyak makanan yang wajib kalian cicipi!" Rindu promosi.

Peter tertawa. “Ya, tentu kami akan ke sana.”

"Oh ya, bagaimana kursusmu, Laily?" tanya Claudia.

"Dua minggu yang lalu ada pesta perayaan musim dingin di sekolah, sekaligus acara penutupan Winterkurs tahun ini. Aku berangkat bersama Lenka.”

"Lenka?" Peter mengerutkan kening.

"Ya, aku tahu." sela Claudia. "Lenka, aupair asal Slowakia."

"Aupair di mana?" tanya Peter.

"Di Gloggnitz juga, di keluarga Meier. Martin Meier."

"Ach so. Ja ja."

"Bagaimana pestanya?"

"Sangat seru. Dan kalian tahu, salah seorang temanku yang berasal dari India, mengenakan gaun India dengan banyak gelang dan pernak-pernik, lalu menari dengan Axel, guru kursus kami, sambil diiringi lagu berbahasa Turki. Sangat menarik."

"Orang India berdansa dengan orang Austria diiringi lagu berbahasa Turki?" Peter tertawa. "Das ist aber cool!"

Makanan sudah datang. Semua pesanan kami sudah terhidang di atas meja. Kami masih mengobrol sambil makan dengan santai, sesekali berfoto bersama. Kami banyak tertawa, banyak cerita, dan banyak bercanda. Tanpa kami sadari, restoran sudah mulai sepi. Dari beberapa meja, hanya meja kami yang penuh. Di dalam restoran hanya tinggal beberapa orang saja, beberapa laki-laki yang sedang bermain kartu sambil minum anggur.

Dari luar mulai terdengar suara gaduh. Peter segera keluar untuk memeriksa apa yang terjadi. Kami masih duduk di dalam restoran sambil menunggu Peter dengan gelisah. Beberapa menit kemudian Peter kembali dengan tergesa-gesa.

"Kita harus pergi!" Setelah menyambar jaketnya dari kursi, dia berlari menuju kasir dan membayar pesanan kami, kemudian bergegas keluar restoran, diikuti kami berempat yang tidak mengerti apa yang tengah terjadi.

Ternyata suara gaduh di luar tadi adalah beberapa orang yang akan menyewa Rodeln, alat seluncur yang bisa dinaiki dua orang. Alat itu terbuat dari kayu dan tanpa roda. Cara menggunakannya, seseorang harus duduk di sana sambil memegangi tali yang melilitnya, dengan posisi kaki diletakkan di sebuah papan kayu di bawah, dan jika sewaktu-waktu Rodeln oleng atau meluncur terlalu cepat, kaki orang yang menaikinya bisa langsung mengerem dengan menjejakkan kaki di atas permukaan salju. Agak mengerikan, memang.

"Ada apa, Peter?" tanya Claudia, tampak cemas.

"Kereta gantung tidak beroperasi lagi di atas jam sembilan malam." jawab Peter, waspada. Dua orang penyewa Rodeln yang tadi gaduh, baru saja meluncur dengan sangat cepat, seakan-akan tidak memiliki ketakutan apapun.

Aku melirik jam tanganku. 21:45.

Itu artinya, kereta gantung tidak bisa digunakan lagi.

Itu artinya, kami tidak bisa turun.

Atau mungkin bisa, tetapi dengan alternatif lain.

Dan aku tidak sanggup membayangkannya. Lebih tepatnya, tidak mau membayangkannya.

"Rodeln!" celetuk Paula, membuatku seketika lemas.

"Tidak bisa! Ibumu baru saja operasi, dia tidak mungkin naik Rodeln, Paula!” Peter membentak anaknya.

"Lalu bagaimana, Papa? Tidak ada cara lain, ‘kan?!" Paula ikut bersuara keras.

Tanpa berkata apa-apa, Peter menghampiri petugas persewaan kereta gantung yang sepertinya baru selesai mengunci pagar besi pembatas di area persewaan kereta gantung itu. Kami berdiri di kejauhan dan melihat Peter yang tengah berdebat dengan orang itu, sepertinya Peter berusaha menjelaskan bahwa istrinya tidak bisa naik Rodeln, dan meminta supaya orang itu bersedia menjalankan satu saja kereta gantung menuju ke bawah.

Lama-lama mereka lebih terlihat seperti dua orang yang sedang bertengkar daripada dua orang yang sedang berdebat biasa. Peter mengeluarkan beberapa lembar euro dari dompetnya, tetapi orang itu menolak menerimanya. Paula tidak sabar. Dia berlari menghampiri ayahnya. Mereka bertiga terlibat perdebatan yang cukup membuat kami bertiga cemas.

Beberapa menit kemudian, Peter dan Paula berbalik meninggalkan orang itu sambil geleng-geleng kepala.

"Kita terpaksa naik Rodeln. Kau, Claudia, bisa ikut dengan kereta cleaning service yang ada di sana.” Peter menunjuk sebuah kereta gantung tunggal yang ukurannya tidak begitu besar, yang hanya cukup diisi oleh tiga atau empat orang saja.

Paula mengantar ibunya menuju dua orang petugas kebersihan yang akan segera menurunkan kereta yang mereka tumpangi. Sementara itu, Peter menyewa dua Rodeln dan memberikan satu kepada Paula.

"Kau bersama Rindu, aku bersama Laily. Ingat, Paula. Jangan terlalu kencang. Ini sudah sangat malam, gelap, dan licin. Jaga keseimbangan tubuhmu."

"Oke, Papa. Kau tidak membawa sarung tangan? Pakai punyaku!" Paula meraih tangan ayahnya dan memakaikan sarung tangan itu, tetapi ayahnya menolak.

"Tidak! Kau saja yang memakainya. Aku tidak perlu."

"Tidak, Papa! Papa saja…"

"Jangan membuang-buang waktu, Paula. Cepat kenakan sarung tanganmu dan kita meluncur ke bawah!"

Paula dan Rindu berboncengan di atas Rodeln, dengan Rindu di belakang dan Paula yang mengendalikan Rodeln. Aku yang tidak paham apapun soal Rodeln atau entahlah apa bahasa Indonesianya tumpangan bodoh ini, hanya menurut saja ketika Peter menyuruhku untuk duduk di belakangnya dan berpegangan erat.

"Kau tidak perlu mengerem, Laily. Kakimu tetap saja di atas papan kayu, jangan turun ke atas tanah. Aku saja yang mengendalikan Rodeln ini. Kau hanya cukup duduk di sana, dan jangan panik. Oke?” perintah Peter terdengar seperti suara Brad Pitt di film-film thriller, membuatku semakin merinding.

"Baik." jawabku pelan, sepelan suara angin yang berdesir memainkan bulu-bulu halus yang menghiasi mantel musim dinginku.

Udara semakin dingin menusuk, suasana sunyi senyap, namun desau angin terdengar seperti guruh di telingaku.

"Okay, fest halten!"[22] Peter pun mulai menjalankan Rodeln, mengikuti Paula yang lebih dulu meluncur ke bawah bersama Rindu.

Sial. Sial. Sial! Ini sialan sekali! Rodeln berkali-kali jedag jedug karena permukaan gunung yang tidak rata. Rodeln yang kami tumpangi terus meluncur dengan kecepatan sangat gila yang membuatku berpegangan semakin erat sambil menutup kedua mataku.

Beberapa detik pertama, aku masih mampu mengendalikan mulutku agar tidak bocor. Tetapi beberapa menit selanjutnya, aku tidak sanggup lagi. Aku berteriak sekuat yang aku bisa.

"Peteeeer! Was für eine blöde Sache![23] Tumpangan macam apa iniiiii aaarrrggghhh!”

"Hahaha." Peter tertawa. "Nikmati saja, Laily! Ini sangat keren! Kau takkan bisa menemukannya di Indonesia, ‘kan?"

"Tapi ini sangat sinting! Aduh!" untuk keseratus kalinya, Rodeln kembali mengalami jedag jedug tak berkesudahan, membuat kaki dan punggungku ikut kesakitan. "Ich mach die Augen zuuuuu!"[24]

"Du brauchst keine Angst zu haben, Laily.[25] Ini sangat keren! Buka matamu! Lihat pemandangan di sekelilingmu!”

Dan Peter semakin tertawa ketika aku berteriak-teriak macam orang kesetanan. Dan yang benar saja. Dia menyuruhku untuk melihat sekeliling. Jangankan melihat sekeliling, membuka mata untuk menatap lurus ke depan saja membuatku ketakutan setengah mati.

"Peter, apakah masih jauh?"

"Ya, masih sangat jauh. Kau tahu ‘kan betapa tingginya gunung ini?"

Oh, sial. Ini benar-benar mimpi buruk.

Sementara Paula dan Rindu berteriak kegirangan di atas Rodeln, aku terus berteriak ketakutan dan Peter harus mengendalikan emosiku agar rasa cemasku sedikit reda.

"Awas, Laily. Berpegangan yang erat, dan ingat! Jangan turunkan kakimu. Sebentar lagi kita akan melewati jalan yang sedikit curam."

Belum sempat aku menjawab dan bertanya lagi, kembali kurasakan jedag jedug luar biasa, kemudian kesakitan menjalar dari kakiku menuju punggung, dan hidungku membentur keras punggung Peter. Rasanya seperti mau pingsan. Kuraba hidungku dan berair. Aku sudah tidak sanggup berkata-kata lagi. Benturan keras antara hidungku dengan punggung Peter cukup membuat tenagaku habis untuk sekedar mengucap sepatah kata. Hidungku rasanya seperti patah. Mataku bahkan ikut berair dan kepalaku sangat pening.

"Bagaimana, keren ‘kan? Kau sudah mulai diam sekarang." Peter tersenyum dalam suaranya. Seandainya dia tahu bahwa diamku adalah gara-gara punggungnya itu.

Lima meter di bawah kami, Paula dan Rindu meluncur sangat kencang dengan Rodeln-nya. Pada sebuah tikungan curam yang sisi kanan-kirinya merupakan tebing yang dalam, mereka terpeleset. Sedikit saja Paula tidak bisa menguasi Rodeln-nya, tentu mereka berdua sudah terperosok ke dalam jurang yang terjal.

"Paula! Hati-hati!" Peter berteriak keras, terdengar sangat khawatir. Paula segera menepi, memacu lagi Rodeln-nya, kali ini lebih berhati-hati.

"Peter, jangan terlalu kencang."

"Tidak perlu takut, Laily. Ich kann das, du brauchst keine Sorgen zu haben. Vertrau mir. Ich kann das.[26] Peter mencoba meyakinkanku. Dia memang sangat lihai dalam menjalankan Rodeln, itu juga yang sering diceritakan oleh Oma Gonda, ibu Peter.

Rodeln kembali melaju, kadang pelan, kadang sangat kencang, menyesuaikan dengan permukaan gunung yang memang tidak rata dan terkadang sangat curam. Meski sudah lebih dari lima belas menit berada di atas Rodeln, aku tetap belum bisa menahan mulutku untuk berhenti berteriak atau mengumpat. Mungkin telinga Peter sampai berdengung karena teriakanku sejak dari atas gunung tadi. Aku pun tadi diam hanya sekitar lima menit, setelah sakit di hidungku mereda, teriakan-teriakan bodoh kembali meluncur dari mulutku.

"Laily, kau tentu takkan mau melewatkan yang satu ini."

"Apa itu?"

"Buka matamu, oke? Ingat, jangan tutup matamu. Sebentar lagi kita akan…"

"Kita akan meluncur dengan sangat cepat di atas permukaan dan tikungan yang curam…?"

Peter tertawa. “Bukan. Bukan itu. Lihat saja. Jangan tutup matamu atau kau akan melewatkan suatu hal yang sangat indah.”

Kalimat Peter membuatku penasaran. Udara kurasakan semakin dingin, padahal seharusnya, semakin ke bawah, udara bisa sedikit lebih hangat.

Rasanya pun sudah lebih dari satu jam aku berada di atas tumpangan bodoh pemacu adrenalin ini.

"Setelah ini, Laily. Kau akan melihat sesuatu."

Rodeln melaju dengan sangat kencang dengan jedag jedug nya yang berirama. Lampu-lampu di tepi jalan yang kami lalui mulai meredup. Bukan, bukan meredup, melainkan menghilang. Karena kami tengah memasuki lorong sekarang.

Lampu-lampu jalanan tadi kini digantikan oleh cahaya-cahaya yang ada di dalam lorong panjang itu. Lorong itu memiliki lampu-lampu berwarna-warni di sepanjang atapnya, juga di beberapa dindingnya. Rasanya serperti memasuki dunia lampu dengan ribuan warna cahaya. Aku terdiam dan hanya terpaku.

Brengsek. Ini sih cantik sekali namanya!

"Waw. Eh-mei-zing!" ucapku akhirnya. Peter tertawa puas.

"Aku yakin kau akan menyukainya."

"Lebih dari itu. Aku terpesona, jatuh cinta pada cahaya-cahaya ini, Peter."

Rasanya aku tidak ingin lorong ini berakhir. Cahaya seperti melesat bergantian warna dengan sangat cepat, karena Rodeln yang kami tumpangi melesat dengan kencang. Beberapa detik kemudian, hamparan putih menyambut kami. Jalanan sudah lumayan rata, lorong sudah berakhir, lampu-lampu dengan ribuan warna cahaya sudah terlewati. Kecepatan Rodeln mulai melambat, kaki Peter yang bersepatu boots itu mengerem dengan cerdas. Rodeln berhenti tepat di depan Claudia yang rupanya sudah berdiri menunggu di sana. Tiga meter di depan kami, Paula dan Rindu tengah sibuk berfoto di atas Rodeln.

"Gut gemacht, Paula!"[27] Rindu dan Paula melakukan toast dan tertawa bersamaan.

"Bagaimana, Laily? Kau suka?" tanya Claudia sambil tersenyum. Aku dan Peter saling pandang, kemudian tertawa terbahak-bahak bersama.

Setelah tawaku reda, aku berbisik di telinga Claudia. "This is the night to remember!"[28]

 

 ***

Footnote:

[1] “Wow! Mengagumkan!”

[2] “Brengsek! Ini keren sekali!”

[3] “Ayo!”

[4] “Lihatlah, Laily!”

[5] “Kau suka?”

[6] “Ya, ya, tentu saja! Ini sangat indah!

[7] “Bahkan lebih dari sekedar ini. Ini seperti Paradise!”

[8] “Ya, bisa jadi.”

[9] “Hei kau, Laily. Aku baru sadar, kau punya sepatu boot putih baru dan juga mantel musim salju baru.”

[10] “Ya, dia membelinya di Wina.”

[11] “Benarkah? Bagus sekali. Cantik.”

[12] “Ah, terimakasih.”

[13] Sup krim seledri dengan campuran ikan salmon dan lembaran adonan roti Stangerl

[14] “Dan bagaimana dengan menu utamanya?”

[15] “Aku memesan Gegrilltes Goldbrassenfilet mit frischen Kräutern, Butterkartoffeln und gemischtem blattsalaten.”

[16] “Tolong dua, ya!”

[17] “Tiga.”

[18] “Dan Sayang, kau mau memesan apa? Paula?”

[19] “Aku mau makanan pembuka saja. Karotten Ingwerschaumsuppe mit Zuckermais.”

[20] “Baik, dan untuk minumnya?”

[21] “Ja, Austria memang sangat indah, tapi kampung halaman tetaplah kampung halaman, ‘kan?”

[22] “Oke, berpegangan yang erat!”

[23] “Betul-betul gila benda ini!”

[24] “Aku tutup saja mataku!”

[25] “Kau tidak perlu takut, Laily.

[26] “Aku bisa melakukannya, kau tak perlu cemas. Percayalah padaku, aku bisa.”

[27] “Kau melakukannya dengan hebat, Paula!”

[28] “Ini adalah malam tak terlupakan!”

To Tumblr, Love Pixel Union